PERANAN KESADARAN MASYARAKAT AKAN STRUKTUR DAN SISTEM PENDIDIKAN TERHADAP PENINGKATAN MUTU

24 02 2010

PERANAN  KESADARAN  MASYARAKAT AKAN STRUKTUR DAN SISTEM  PENDIDIKAN  TERHADAP PENINGKATAN MUTU

oleh : Ir Yohanis Ano

Bacaan : Suyatno, Dr. M.Pd. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif

*) Penulis adalah guru SMKN 2 Negara, tinggal di  Desa Baluk, Negara.
Kontak Person HP. 081337932375

PENDAHULUAN

Paradigma baru pendidikan yang dikemukakan oleh Freire (1986), pendidikan adalah proses memanusiawikan manusia kembali. Dalam proses memanusiawikan manusia ini Freire membagi kesadaran manusia terhadap proses pendidikan dalam 3 (tiga) kelompok :

Kelompok pertama : Kesadaran Magis, yakni kesadaran yang tidak mampu mengetahui antara faktor yang satu dengan faktor lainnya. Proses pendidikan tidak memberikan kemampuan analisa tentang kaitan antara sistem yang diciptakan dalam proses pendidikan dan pelatihan (diklat) dengan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Dalam hal ini peserta didik secara dogmatis menerima kebenaran dari pendidik tanpa ada mekanisme pemahaman makna setiap konsepsi kehidupan yang terjadi di masyarakat.

Kelompok Kedua : Kesadaran naif : yakni melihat aspek manusia menjadi penyebab masalah yang berkembang di masyarakat. Artinya masyarakat tidak mempertanyakan sistem dan struktur pelatihan, sehingga sistem dan struktur pendidikan dan pelatihan yang ada dianggap sudah baik dan benar, sehingga peserta didik diarahkan masuk dan beradaptasi dengan sistem yang sudah benar tersebut.

Kelompok ketiga: Kesadaran Kritis, yakni lebih melihat sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Kelompok kesadaran kritis ini melatih masyarakat/peserta didik mampu mengidentifikasi ketimpangan struktur dan sistem yang sudah ada, kemudian mampu melakukan analisa bagaimana sistem bekerja serta bagaimana mentransformasikannya. Kesadaran kritis ini menganggap tugas lembaga pendidikan adalah menciptakan ruang dan kesempatan agar peserta didik terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan sesuai dengan diri peserta didik.

KEADAAN PROSES PENDIDIKAN SAAT INI

Dr. Suyatno bertanya dalam tulisannya (Menjelajah Pembelajaran Inovatif: 2009): Apakah selama ini pendidikan yang diselenggarakan belum menyentuh pola kesadaran kritis? Jawabnya secara tegas belum. Mengapa harus malu-malu mengatakan sistem pendidikan kita masih bersifat magis dan naïf. Nyatanya sistem pendidikan yang sering diselenggarakan berorientasi pada sistem baku yang harus dianut karena sudah digariskan dari pusat, daerah atau dari mana saja, dan tidak pernah pendidikan yang diselenggarakan berorientasi pada peserta pedidikan.

Terhadap pendapat Dr. Suyatno,  penulis berpendapat bahwa proses pendidikan di Indonesia masih berada dalam transisi kesadaran magis dan naïf dan pada akhir-akhir ini baru mulai ada kecenderungan berubah paradigma, namun belum sepenuh hati untuk masuk pada kesadaran kritis sehingga melibatkan berbagai pihak dalam menetapkan struktur pendidikan, terutama dalam penyusunan struktur kurikulum pendidikan. Contoh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dimana dalam penyusunannya sudah memberi ruang dan kesempatan keterlibatan pihak sekolah dan masyarakat untuk memberi masukan dalam perubahan kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik/siswa dan masyarakat sekitar dengan memasukan kearifan lokal (local genius).

Sejujurnya harus diakui juga bahwa dalam tahap kesadaran kritis ini kemandirian pihak-pihak terkait (baca :SDM) yang mana harus ikut menentukan sistem dan struktur pendidikan bisa dikatakan belum siap karena belum terbiasa bersikap kritis akibat dari sistem birokrasi yang berlangsung sejak lama  dengan kebiasaan kebijakan top down dimana masyarakat hanya bisa menerima dan menerapkan apa yang telah ditetapkan oleh atasan, sehingga keberanian masyarakat makin lama makin tertutupi, dan ketika ada paradigma baru dan diberi angin segar untuk berpikir dan bertindak kritis,  maka masyarakatnya  takut-takut berani walaupun mereka tidak berbuat sesuatu yang salah. Untuk hal ini diperlukan waktu yang lama untuk penyesuaian dan pembinaan mental yang memadai.

Selanjutnya Freire, menyatakan jika seorang pasrah pada sistem dan struktur yang sebenarnya usang, dan menyerah pada sistem tersebut, sesungguhnya ia sedang tidak manusiawi. Karena seseorang yang manusiawi justru harus menjadi pencipta sejarahnya sendiri (baca: kreatif dan inovatif). Pendidikan haruslah berorientasi pengenalan realitas diri manusia dan diri sendiri. Dengan demikian proses pendidikan harus melibatkan tiga unsur sekaligus dalam hubungan dialektika yang ajeg (lestari) yakni antara pengajar (guru), peserta didik dan realitas dunia. Ketiga komponen inilah yang disinyalir belum maksimal terlibat secara bersama-sama dalam proses pendidikan. Karena itu pendidikan saat ini boleh diibaratkan sebagai  sebuah bank. Peserta didik diberikan pengetahuan agar kelak mendatangkan hasil yang berlipat-lipat. Peserta didik lalu diperlakukan seperti bejana kosong yang akan diisi sebagai sarana tabungan. Guru/pelatih adalah subjek yang aktif, peserta didik adalah subjek yang pasif yang penurut dan diperlakukan tidak berbeda sesuai karakteristiknya masing-masing. Pendidikan akhirnya dapat bersifat negatif dengan guru memberikan informasi yang harus diterima oleh peserta didik yang wajib diingat dan dihafalkan tanpa harus memberi masukan ataupun kritikan.

Dalam proses pendidikan model  lama (magis dan naïf), guru/pelatih menjadi pusat (teacher centered) segalanya, menjadi hal yang biasa dan wajar jika murid mengidentifikasikan diri seperti gurunya sebagai prototype(model)manusia ideal yang harus digugu dan ditiru serta diteladani dalam segala hal. Dan untuk ini penulis memiliki kisah nyata. Anak saya ketika di SD kelas II membawa pulang tugas (PR) matematika dari sekolah dan saat mengertjakan tugas itu saya menerangkan dengan cara lain tapi hasilnya sama anak saya langsung, katakan bapak salah. Guru saya menjelaskannya tidak begitu sehingga dikerjakan sesuai ajaran gurunya dan kalau dia tidak bisa kerjakan maka dia akan lebih senang bertanya pada gurunya di sekolah daripada bertanya sama bapaknya di rumah. Dampak yang akan terjadi kemudian adalah  murid-murid itu sebagai duplikasi dari guru mereka tempo doeloe.

Syukurlah pada saat ini telah berkembang paradigma baru pendidikan di Indonesia, menempatkan peserta didik sebagai pusat (Student centered) kegiatan belajar namun pelaksanaannya masih cukup sulit karena guru yang berperan saat ini kebanyakan adalah produk proses pendidikan pola lama dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sehingga masih terkesan guru-guru berada dalam dualisme paradigma proses pendidikan , bila guru menggunakan pola proses pendidikan yang lama itu artinya guru tidak inovatif sedangkan bila harus mengikuti pola proses pendidikan yang baru maka para guru harus siap belajar lebih banyak, padahal kita tahu bersama seseorang yang mulai beranjak lanjut usia  biasanya sangat sulit untuk merubah pola prilaku yang sudah menyatu dengan dirinya (baca: sudah nyaman).

Perubahan yang mengarah kepada sesuatu yang lebih baik harus dijalani, tetapi tidak berarti meninggalkan hal-hal lama/kuno yang  bernilai baik dan positif. Proses pendidikan pola lama memang mungkin terkesan guru menindas siswa dalam artian tertentu apalagi dihubungkan dengan perlindungan HAM (Hak Azasi Manusia) namun hasilnya juga banyak orang (Sumber Daya manusia) yang  merupakan hasil tamatannya  sangat potensial dan banyak yang sudah sukses memimpin bangsa dan negara saat ini. Mungkin ketika belajar mereka takut dihukum oleh gurunya maka mereka berusaha mati-matian untuk belajar dengan baik, taat dan disiplin.

Pada era proses pendidikan baru dengan siswa sebagai pusat perhatian (student centered) dan guru hanya sebagai fasilitator, pendamping atau apapun namanya peserta didik terkesan terlalu bebas,  jarak antara guru dengan siswa sangat dekat, namun juga dikeluhkan tingkat kedisiplinannya sangat rendah (memang tidak semuanya), kesopanannya diragukan. Dan ini terjadi gap (jurang pemisah)  antara siswa yang berada dalam era kebebasan dan teknologi komunikasi dan informamasi dan guru tamatan belajar tahun lawas yang sementara berjuang hidup atau mati untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan kekinian, yang juga merupakan suatu tantangan yang tidak ringan. Kata orang bijak “Siapa mau kendalikan seorang/sekelompok orang dia harus kendalikan duluan dirinya sendiri”.

Untuk memasuki suatu perubahan diperlukan kesiapan semua pihak, bagaimana seorang yang gagap teknologi diwajibkan mengajarkan teknologi tertentu kepada anak didiknya. Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Tidakkah keduanya pasti masuk bersama dalam jurang? Bagaimana seseorang belum memiliki senjata yang ampuh, tapi berani maju menyerang lawan  yang sudah siap menunggu dengan meriam dan peralatan perang yang sangat canggih. Bila ada orang yang berani itu berarti nekat dan untung-untungan. Memasuki suatu perubahan dan tinggal didalamnya memerlukan proses yang sulit dan lama biasanya harus melalui masa peralihan, penyesuaian sebelum menerima dan akhirnya tinggal dalam suatu perubahan yang merupakan pola hidup baru. Dan untuk menuju suatu perubahan apalagi meninggalkan suatu prilaku yang sudah mendarah daging ini diperlukan suatu revolusi dan biasanmya memakan korban berupa waktu, tenaga dan uang.

PENUTUP

Bila diurai tantangan dalam proses pendidikan, maka pasti kehabisan kata-kata untuk berungkap dan kurang tinta untuk mencoret serta kehabisan kertas untuk menuliskannya. Karena itu sebaiknya mari kita kembali pada kesadaran kritis dalam proses pendidikan dengan memberi ruang dan waktu bagi semua komponen yang berkepentingan untuk berkiprah. Wahai sang Guru, libatkanlah peserta didik/siswa/murid dan realitas kehidupan dalam proses pendidikan agar anda diberi simbol “GURU INOVATIF”, Para Peserta Didik/Siswa/Murid gunakan keterbukaan dalam proses belajar paradigma baru (Siswa menjadi pusat perhatian) dengan sebaik-baiknya agar anda diberi predikat “SISWA BER-PRESTASI, BER-ETIKA DAN BER-BUDAYA” , Masyarakat mainkan fungsimu dalam mengontrol struktur, sistem dan proses pendidikan agar disematkan simbul “Warga Negara yang cerdas dan memiliki kesadaran kritis. Pemerintah lakukanlah tanggungjawab mencerdaskan kehidupan bangsa dengan membuat kebijakan yang melindungi proses pendidikan, melengkapi fasilitas pendidikan yang dibutuhkan oleh lembaga pendidikan agar tuntutan peningkatan mutu pendidikan yang dicanangkan  beralasan untuk dihargai dan dihormati dan masyarakat berjuang untuk mencapai target mutu yang ditetapkan.

Jika masyarakat, personal lembaga pendidikan, peserta didik dan pemerintah tidak mengambil perannya secara baik, apalagi tidak memiliki kesadaran kritis dan rasa tanggungjawab yang tinggi, maka tujuan peningkatan mutu proses dan hasil pendidikan, kita tidak boleh pesimis namun mungkin kita tidak akan banyak berharap terjadi keajaiban  perubahan.   Semoga bermanfaat!!!


Aksi

Information

One response

15 01 2014
umi

bagus sekali pak tulisannya.. dan kalau boleh saya tau buku dari bapak suyatno menjelajah pembelajaran inovatif bisa saya dapatkan dimana ya? saya perlu untuk referensi skripsi saya terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: